Inventarisasi OPT Pada Tanaman Padi di Desa Dampuloe Aceh Besar


I.       PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang
            Keadaan rakyat di pedesaan pada umumnya memiliki banyak keterbatasan, baik dari segi sumber daya manusia, ekonomi, maupun kondisi alam dan lingkungan.  Hal ini dapat disebabkan rendahnya tingkat perolehan pendidikan serta minimnya sumber informasi.
            Kegiatan bakti profesi adalah salah satu peran perguruan tinggi yang merupakan perwujudan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan ini merupakan bentuk kegiatan pengabdian mahasiswa kepada masyarakat pedesaan dalam memecahkan permasalahan yang sesuai dengan ilmu yang dimiliki, dan melalui kegiatan bakti profesi ini diharapkan mampu mendekatkan Perguruan Tinggi sebagai lembaga intelektual kepada masyarakat di pedesaan, untuk membantu petani dalam mengambil keputusan yang sesuai dengan  permasalahan yang dihadapi.
Permasalahan yang dihadapi saat budidaya padi sawah khususnya di Desa Dampulo, adalah adanya beberapa Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dari kelompok hama dan gulma.  Selain itu factor lingkungan sangat mempengaruhi produksi padi.  Mahalnya bibit, biaya produksi, pengangkutan dan harga jual yang rendah membuat petani jarang dapat meningkat kehidupan dan kesejahteraan keluarga.  Beberapa jenis hama dan gulma yang sering di jumpai pada tanaman padi adalah : walang sangit (leptocorixa acuta ), tikus (rattus argentiventer), kepinding tanah (Scotinophara lurida), keong mas (Pomacea canaliculata), sementara gulma hanya cyperus rotundus (Balai Penelitian Tanaman Padi, 2005).
Keseluruhan OPT tersebut jika tidak ada upaya pengendalian maka akan menyebabkan kerugian hasil yang sangat besar sehingga berpengaruh terhadap pendapatan petani padi.
            Persawahan rakyat di Kabupaten Aceh Besar sudah mulai melaksanakan sistem pertanian berbasis organik. Saat pengendalian OPT dilapangan sudah menggunakan unsur-unsur organik seperti penggunaan varietas tahan, dan perlakuan benih (seed treatment) dengan kemikalia. Jerami yang tertinggal di lapangan sesudah tanaman dipanen, dihilangkan untuk menghindari penyebaran OPT untuk tanaman berikutnya. Jarak tanam lebar juga sangat membantu menekan OPT ini. Varietas tahan merupakan komponen yang praktis untuk mengendalikan OPT, musuh alami dan pestisida nabati yang berasal dari ekstrak tumbuh-tumbuhan seperti ekstrak nimba, akar tuba dan tanaman lainnya dapat  juga digunakan untuk  mengendalikan OPT tanaman padi.

1.2.      Tujuan Bakti Profesi
            Tujuan dan manfaat kegiatan bakti profesi ini adalah sebagai berikut:
a)      Pengabdian kepada masyarakat sebagai perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
b)      Menambah dan memperluas pengetahuan dan wawasan baik bagi mahasiswa maupun petani tentang tanaman padi dan masalah pertanian
c)      Dapat melihat secara langsung jenis OPT dan gejalanya yang mengganggu tanaman padi. 
d)     Membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi petani khususnya mengenai OPT yang menyerang tanaman padi.
e)      Memberikan pengalaman dan keberanian bagi mahasiswa dalam memberikan penyuluhan.
f)       Meningkatkan hubungan silaturrahmi antara mahasiswa dengan petani.
g)      Memberikan dan memperkenalkan tehnik pengendalian yang berwawasan lingkungan terhadap OPT padi di lapangan melalui penyuluhan pada petani padi.













II.          TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tanaman Padi
Menurut Kartasapoetra (2003),  klasifikasi botani tanaman padi adalah sebagai berikut:
Divisi               : Spermatophyta
Sub divisi        : Angiospermae
Kelas               : Monotyledonae
Keluarga          : Gramineae (Poaceae)
Genus              : Oryza
Spesies            : Oryza spp

2.1.1.      Manfaat Tanaman
Beras merupakan makanan sumber karbohidrat yang utama di kebanyakan Negara Asia. Negara-negara lain seperti di benua Eropa, Australia dan Amerika mengkonsumsi beras dalam jumlah yang jauh lebih kecil daripada Negara Asia. Selain itu jerami padi dapat digunakan sebagai penutup tanah pada suatu usaha tani (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian, 1973).

2.1.2.      Sentra Penanaman
Pusat penanaman padi di Indonesia adalah Pulau Jawa (Karawang, Cianjur), Bali, Madura, Sulawesi, dan akhir-akhir ini Kalimantan. Pada tahun 1992 luas panen padi mencapai 10.869.000 ha dengan rata-rata hasil 4,35 ton/ha/tahun. Produksi padi nasional adalah 47.293.000 ton. Pada tahun itu hampir 22,5% produksi padi nasional dipasok dari Jawa Barat. Saat adanya krisis ekonomi, sentra padi Jawa Barat seperti Karawang dan Cianjur mengalami penurunan produksi yang berarti. Produksi padi nasional sampai Desember 1997 adalah 46.591.874 ton yang meliputi areal panen 9.881.764 ha. Karena pemeliharaan yang kurang intensif, hasil padi gogo mencapai 1-3 ton.haˉ¹, sedangkan dengan kultur teknis yang baik hasil padi sawah mencapai 6-7 ton.haˉ¹ (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian, 1973).

2.1.3.      Syarat Tumbuh
a.      Iklim
Tumbuh di daerah tropis/subtropis pada 45° LU sampai 45° LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan.  Rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm.bulanˉ¹ atau 1500-2000 mm.tahunˉ¹. Padi dapat ditanam di musim kemarau atau hujan, pada musim kemarau produksi meningkat asalkan air irigasi selalu tersedia. Di musim hujan, walaupun air melimpah prduksi dapat menurun karena penyerbukan kurang intensif.  Di dataran rendah padi memerlukan ketinggian 0-650 m dpl dengan temperature 22-27°C sedangkan di dataran tinggi 650-1.500 m dpl dengan temperature 19-23°C.  Tanaman padi memerlukan penyinaram matahari penuh tanpa naungan.  Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan tetapi jika terlalu kencang akan merobohkan tanaman (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian, 1973).
b.      Media Tanam
*      Padi sawah
1.      Padi sawah ditanam di tanah berlempung yang berat atau tanah yang memiliki lapisan keras 30 cm di bawah permukaan tanah.
2.      Menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm. 3. Keasaman tanah antara pH 4,0-7,0. Pada padi sawah, penggenangan akan mengubah pH tanam menjadi netral (7,0). Pada prinsipnya tanah berkapur dengan pH 8,1-8,2 tidak merusak tanaman padi. Karena mengalami penggenangan, tanah sawah memiliki lapisan reduksi yang tidak mengandung oksigen dan pH tanah sawah biasanya mendekati netral.  Untuk mendapatkan tanah sawah yang memenuhi syarat diperlukanpengolahan tanah yang khusus (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian, 1973).

c.       Ketinggian Tempat
Tanaman dapat tumbuh pada daerah mulai dari daratan rendah sampai daratan tinggi.

2.1.4.      Pembibitan
a.      Persyaratan Benih
Syarat benih yang baik:
  1. Tidak mengandung gabah hampa, potongan jerami, kerikil, tanah dan hama gudang.
  2. Warna gabah sesuai aslinya dan cerah.
  3. Bentuk gabah tidak berubah dan sesuai aslinya.
  4. Daya perkecambahan 80% (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian, 1973).
b.      Penyiapan Benih
Benih dimasukkan ke dalam karung goni dan direndam 1 malam di dalam air mengalir supaya perkecambahan benih bersamaan.
c.       Teknik Penyemaian Benih
*      Padi sawah ;  Untuk satu hektar padi sawah diperlukan 25-40 kg benih tergantung pada jenis padinya. Lahan persemaian dipersiapkan 50 hari sebelum semai. Luas persemaian kira-kira 1/20 dari areal sawah yang akan ditanami. Lahan persemaian dibajak dan digaru kemudian dibuat bedengan sepanjang 500-600 cm, lebar 120 cm dan tinggi 20 cm. Sebelum penyemaian, taburi pupuk urea dan SP-36 masing-masing 10 gram/meter persegi. Benih disemai dengan kerapatan 75 gram/meter persegi. (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian, 1973).
d.      Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Persemaian diairi dengan berangsur sampai setinggi 5 cm, pestisida disemprotkan pada hari ke 7 dan pupuk urea di taburi sebanyak 10 gram/meter persegi pada hari ke 10 (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian, 1973).
e.       Pemindahan benih
Bibit yang siap dipindah tanamkan ke sawah berumur 25-40 hari, berdaun 5-7 helai, batang bawah besar dan kuat, pertumbuhan seragam, tidak terserang
hama dan penyakit (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian, 1973).

2.1.5.      Pengolahan Media Tanam
*      Pengolahan Lahan Padi Sawah
  1. Membersihkan saluran air dan sawah dari jerami dan rumput liar.
  2. Memperbaiki  pematang serta mencangkul sudut petak sawah yang sukar dikerjakan dengan menggunkan bajak.
  3. Bajak sawah untuk membalik tanah dan memasukkan bahan organik yang ada di permukaan. Pembajakan pertama dilakukan pada awal musim tanam dan dibiarkan 2-3 hari setelah itu dilakukan pembajakan ke dua yang disusul oleh pembajakan ketiga 3-5 hari menjelang tanam.
  4. Permukaan tanah sawah diratakan, dan gumpalan tanah dihancurkan dengan cara menggaru. Permukaan tanah yang rata dapat dibuktikan dengan melihat permukaan air di dalam petak sawah yang merata.
  5. Lereng yang curam dibuat teras memanjang dengan petak-petak yang dibatasi oleh pematang agar permukaan tanah merata (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian, 1973).

2.1.6.      Teknik Penanaman
1.      Pola Tanam Pada Areal Beririgasi
Lahan dapat ditanami padi 3 x setahun, tetapi pada sawah tadah hujan harus dilakukan pergiliran tanaman dengan palawija. Pergiliran tanaman ini juga dilakukan pada lahan beririgasi, biasanya setelah satu tahun menanam padi.  Untuk meningkatkan produktivitas lahan, seringkali dilakukan tumpang sari dengan tanaman semusim lainnya, misalnya pada pertanaman padi sawah, tanaman tumpang sari ditanam di pematang sawah, biasanya berupa kacang-kacangan (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian, 1973).

2.      Penanaman Padi Sawah
Bibit ditanam dalam larikan dengan jarak tanam 20 x 20 cm, 25 x 25 cm, 22 x 22 cm atau 30 x 20 cm tergantung pada varitas padi, kesuburan tanah dan musim.  Padi dengan jumlah anakan yang banyak memerlukan jarak tanam yang lebih lebar.  Pada tanah subur jarak tanam lebih lebar.  Jarak tanam di daerah pegunungan lebih rapat karena bibit tumbuh lebih lambat. 2-3 batang bibit ditanam pada kedalaman 3-4 cm (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian, 1973).

2.1.7.      Penjarangan dan Penyulaman Padi Sawah
Penyulaman tanaman yang mati dilakukan paling lama 14 hari setelah tanam, bibit sulaman harus dari jenis yang sama yang merupakan bibit cadangan pada persemaian bibit (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian, 1973).

2.1.8.      Penyiangan Padi Sawah
Penyiangan dilakukan dengan mencabut rumput-rumput yang dikerjakan sekaligus dengan menggemburkan tanah. Penyiangan dilakukan dua kali yaitu pada saat berumur 3 dan 6 minggu dengan menggunakan landak (alat penyiang mekanis yang berfungsi dengan cara didorong) atau cangkul kecil (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian, 1973).

2.1.9.      Pengairan Padi Sawah
Syarat penggunaan air di sawah:
  1. Air berasal dari sumber air yang telah ditentukan Dinas Pengairan/ Dinas Pertanian dengan aliran air tidak deras.
  2. Air harus bisa menggenangi sawah dengan merata.
  3. Lubang pemasukkan dan pembuangan air letaknya bersebrangan agar air merata di seluruh lahan.
  4. Air mengalir membawa lumpur dan kotoran yang diendapkan pada petak sawah. Kotoran berfungsi sebagai pupuk.
  5. Genangan air harus pada ketinggian yang telah ditentukan. Setelah tanam, sawah dikeringkan 2-3 hari kemudian diairi kembali sedikit demi sedikit. Sejak padi berumur 8 hari genangan air mencapai 5 cm.  Pada waktu padi berumur 8-45 hari kedalaman air ditingkatkan menjadi 10 sampai dengan 20 cm. Pada waktu padi mulai berbulir, penggenangan sudah mencapai 20-25 cm, pada waktu padi menguning ketinggian air dikurangi sedikit-demi sedikit (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian, 1973).

2.1.10.  Pemupukan Padi Sawah
Pupuk Hayati MiG-6 Plus sebanyak 6 L.haˉ¹ per musim dengan aplikasi 2 liter diberikan 3 hari sebelum tanam dengan cara disemprot secara merata pada lahan yang airnya macak-macak kemudian aplikasi selanjutnya pada saat umur padi 30 hari dan pada saat keluar malai masing-masing 2 L.haˉ¹.  Pupuk anorganik yang dianjurkan Urea=200 kg.haˉ¹, TSP=50-75 kg.haˉ¹ dan KCl=100 kg.haˉ¹. Pupuk Urea diberikan 2 kali, yaitu pada 3-4 minggu, 6-8 minggu setelah tanam. Urea disebarkan dan diinjak agar terbenam. Pupuk TSP diberikan satu hari sebelum tanam dengan cara disebarkan dan dibenamkan.  Pupuk KCl diberikan 2 kali yaitu pada saat tanam dan saat menjelang keluar malai. (untuk hasil 9 ton.haˉ¹ dibutuhkan N : 171 kg atau setara dengan urea 400 kg, P : 54 kg atau setara dengan 154 TSP. K : 180 kg atau setara dengan 200 KCL sedangkan dengan MiG-6 Plus 6 L.haˉ¹,  dapat menghasilkan N : 90kg, P: 50kg dan K:50kg, catatan : 1 ton membutuhkan 19 kg N, 6 kg P dan 19,4 kg K), (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian, 1973).

2.1.11.  Waktu Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan pestisida dilakukan 1-2 minggu sekali tergantung dari intensitas serangan (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian, 1973).

2.2.      HAMA DAN GULMA
2.2.1.      Walang Sangit
Walang sangit (Leptocorixa acuta) adalah hama yang menyerang tanaman padi setelah berbunga dengan cara menghisap cairan bulir padi menyebabkan bulir padi menjadi hampa atau pengisiannya tidak sempurna.  Penyebaran hama ini cukup luas.  Di Indonesia walang sangit merupakan hama potensial yang pada waktu-waktu tertentu menjadi hama penting dan dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 50 %. Diduga bahwa populasi 100.000 ekor perhektar dapat menurunkan hasil sampai 25 %. Serangan hama ini dapat mengakibatkan : bulir padi menjadi hampa akibat tusukannya pada saat bulir padi sedang matang susu (Pracaya, 2007).

a.      Siklus Hidup
Walang sangit dewasa (imago)  meletakkan telur pada bagian atas daun tanaman. Pada tanaman padi daun bendera lebih disukai. Telur berbentuk oval dan pipih berwarna coklat kehitaman, diletakkan satu persatu dalam 1-2 baris sebanyak 12-16 butir. Lamanya stadia telur adalah 7 hari, terdapat lima instar pertumbuhan nimfa yang total lamanya sekitar 19 hari.  Lama siklus hidup walang sangit adalah sekitar 46 hari.
Setelah menetas, nimfa mulai bergerak mencari bulir padi yang masih stadia masak susu, bulir yang sudah keras tidak disukai. Nimfa-nimfa akan bersembunyi dibawah kanopi tanaman pada saat siang hari yang panas, sedangkan yang dewasa pada pagi hari aktif terbang dari rumpun ke rumpun, dan proses penerbangan yang jauh terjadi pada sore atau malam hari.
Pada saat tidak ada pertanaman padi atau tanaman padi masih dalam stadia vegetatif, imagonya bertahan hidup pada berbagai tanaman yang ada di sekitar sawah.  Setelah tanaman padi berbunga, imago pindah ke pertanaman padi dan berkembang biak satu generasi sebelum tanaman padi tersebut dipanen. Makin serempak tanam padi, maka makin sedikit jumlah generasi perkembangan hama walang sangit.

b.      Perilaku Makan dan Kerusakan yang ditimbulkan
Nimfa dan imago menghisap bulir padi pada fase masak susu, pada saat menghisap bulir tidak dilubangi tetapi menusuk melalui rongga diantara lemma dan palea. Saat proses menimbulkan kerusakan (mencari makan) nimfa lebih aktif daripada imago.  Imago dapat merusak lebih lama karena hidupnya lebih lama. Apabila bulir padi sudah dihisap, maka bijinya akan mengecil dan kehilangan cairan dalam biji.  Walaupun demikian, jarang ada biji yang hampa total karena walang sangit tersebut tidak mengosongkan seluruh isi pada yang sedang tumbuh. Selain menghisap cairan, walang sangit juga bisa menjadi vektor jamur Helminthosporium oryzae yang terjadi melalui lubang tusukan, sehingga akibat serangan jamur ini kuwalitas beras akan menurun karena berubah warna dan patah

c.       Pengendalian
v  Mekanik dan fisik ; dilakukan dengan cara menangkap walang sangit dengan jaring serangga dan sebagainya pada awal musim padi berbunga diwaktu pagi dan sore hari.
v  Perangkap ; dengan menggunakan tumbuhan dan bangkai binatang yang berbau busuk, seperti : bangkai kodok, ketam, udang dan lain sebagainya (disini hanya jantan yang tertarik pada bau tersebut). Menyalakan obor di malam hari untuk menarik walang sangit.
v  Biologi (musuh alami) ;  dapat dilakukan pengendalian dengan cara penggunaan seperti : parasitoid (Hadronotus leptocorisae, Ooencyrtus malayensis, Gryon nixonii, dan Telenomus corani), predator (Gryllids, Tettigonids, dan Reduvlids).
v  Kimia ;  dilakukan apabila terdapat 2 ekor walang sangit per 16 rumpun padi, yang dilakukan pada saat padi berbunga serempak (matang susu). Tidak boleh disemprot 2-3 minggu sebelum panen. Insektisida yang boleh digunakan antara lain :  Bassa 50 EC, Marshall 200 EC, Dharmabas 500 EC, Dharmafur 3 G, dan Kiltop 50 EC (Rismunandar, 1981).

2.2.2.      Tikus (Rattus argentiventer)
Tanaman padi akan mengalami kerusakan parah apabila terserang oleh tikus dan menyebabkan penurunan produksi padi yang cukup besar. Menyerang batang muda (1-2 bulan) dan buah.
*      Gejala : adanya tanaman padi yang roboh pada petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman.
*      Pengendalian :  dengan pergiliran tanaman, sanitasi, gropyokan, melepas musuh alami seperti ular dan burung hantu, penggunaan pestisida dengan tepat, intensif dan teratur, memberikan umpan beracun seperti seng fosfat yang dicampur dengan jagung atau beras, (Harahap,1994).



2.2.3.      Keong mas
Keong mas (Pomecea canaliculata) diperkenalkan ke Asia pada tahun 1980an dari Amerika selatan sebagai makanan potensial bagi manusia. Namun kemudian keong mas menjadi hama utama tanaman padi yang menyebar ke Filipina, Kamboja, Thailand, Vietnam, dan Indonesia, hewan ini menyebar sangat cepat (Anonimuos,1993)

a.      Siklus Hidup
Telur diletakkan pada malam hari pada tumbuhan, galengan dan barang lain (seperti ranting, ajir, batu dan lain-lain) di atas permukaan air. Kelompok telur berwarna jambon kemerah-merahan cerah dan menjadi jambon muda ketika akan menetas.
Siput murbai muda yang baru menetas dan siput murbai dewasa , Siput murbai cepat besar dan dewasa, mereka rakus makan, siput murbai kawin selama 3 sampai 4 jam pada siang hari pada tumbuhan yang rimbun (rapat) yang mendapat air sepanjang tahun. Siput murbai bereproduksi dengan cepat, mereka dapat bertelur 1000-1200 butir dalam sebulan.  Dengan demikian, menghancurkan telur merupakan strategi pemberantasan yang efektif (Ginting, 1997).

b.      Pengendalian
v  Mekanik dan fisik ; pungut keong mas dan hancurkan telurnya. Hal ini paling baik dilakukan di pagi dan sore ketika keong mas berada dalam keadaan aktif. Tempatkan tongkat bamboo untuk menarik keong mas dewasa dan telunya.
v  Biologi ; semut merah memakan telur keong, dan lepaskan bebek diareal yang banyak terdapat keong mas karena bebek memakan keong mas muda. Orang memakan dagingnya jika telah dimasak dengan benar dan tikus sawah juga memakan rumah siput dan dagingnya.
v  Kimia ; dengan pestisida berbahan aktif niclos amida dan deris mungkin dibutuhkan bila praktek-praktek lainnya gagal (Pitojo, 1996)

2.2.4.      Kepinding Tanah
Kepinding tanah terdapat di semua Negara di Asia Tenggara. Kepinding tanah juga merupakan salah satu hama penting yang berpotensi pada tanaman padi, dan terutama terdapat di lahan padi tetapi juga pada tanaman jagung, gandum dan rumput-rumputan. Pada siang hari imago kepinding tanah bersembunyi di dalam pelepah daun padi, bahkan juga dalam lumpur dekat akar tanaman padi. Pada saat subuh hari menjelang pagi, imago keluar dari persembunyiannya karena imago kepinding tanah ini salah satu hama yang tertarik pada cahaya, dan bau tubuh dari kepinding tanah ini juga sangat menyengat. Selain menyerang padi, kepinding ini juga menyerang cantel, jewawut, jagung dan lain sebagainya (Susanto, 1996).
Areal yang terserang direndam sehingga telur, nimfa dan imago yang berada di bagian bawah tanaman akan hanyut.  Melakukan pembajakan segera setelah panen, supaya sisa tanaman padi ikut terbenam dalam lumpur. Bebek juga dapat dimanfaatkan untuk pengendalian ini. Penggunaan peran parasitoid misalnya : Trissolcus sp, dan  jamur entomophatogen juga penting dalam menekan populasi hama ini (Efendi, 2009).

2.2.5.      Gulma Rumput teki-tekian (Cyperus rotundus)
Gulma yang tumbuh di antara tanaman padi adalah rumput-rumputan seperti umput teki (Cyperus rotundus) dan gulma berdaun lebar. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara mekanis (mencabut, menyiangi), jarak tanam yang tepat dan penyemprotan herbisida Basagran 50 ML, Difenex 7G, DMA 6 dll. (Divisi Pengembangan Produksi Pertanian, 1973).

2.3.      PANEN
2.3.1.      Ciri dan Umur Panen
Padi siap panen: 95 % butir sudah menguning (33-36 hari setelah berbunga), bagian bawah malai masih terdapat sedikit gabah hijau, kadar air gabah 21-26 %, butir hijau rendah.

2.3.2.      Cara Panen
Sawah di keringkan  7-10 hari sebelum panen, untuk memotong pangkal batang dengan menggunakan sabit yang tajam. Hasil panen disimpan di suatu wadah atau tempat yang beralas. Panen dengan menggunakan mesin akan menghemat waktu, dengan alat Reaper binder, panen dapat dilakukan selama 15 jam untuk setiap hektar sedangkan dengan Reaper harvester panen hanya dilakukan selama 6 jam untuk 1 hektar.

2.3.3.      Perkiraan Produksi
Penanaman dan pemeliharaan yang intensif, diharapkan produksi mencapai 8-9 ton.haˉ¹. Saat ini hasil yang didapat hanya 5-6 ton.haˉ¹.

2.3.4.      Pasca Panen
  1. Perontokan. Lakukan secepatnya setelah panen, gunakan cara diinjak injak (± 60 jam 1 ha perorang), dihempas/dibanting (± 60 jam 1 ha perorang), dilakukan dua kali di dua tempat terpisah. Penggunakan mesin perontok, dapat menghematwaktu. Perontokan dengan perontok pedal mekanis hanya memerlukan 7,8 jam orang untuk 1 hektar hasil panen.
  2. Pembersihan. Gabah dibersihkan dengan cara diayak/ditapi atau dengan blower manual. Kadar kotoran tidak boleh lebih dari 3 %.
  3. Gabah di jemur selama 3-4 hari selama 3 jam per hari sampai kadar airnya 14%. Secara tradisional padi dijemur di halaman.  Jika menggunakan mesin pengering, kebersihan gabah lebih terjamin daripada dijemur di halaman.
  4. Penyimpanan.  Gabah dimasukkan ke dalam karung bersih dan jauhkan dari beras karena dapat tertulari hama beras. Gabah siap dibawa ke tempat penggilingan beras (Balai Penelitian Tanaman Padi, 2005).

III. PROGRAM KERJA

3.1 Tempat dan Waktu
Tempat pelaksanaan bakti profesi ini di laksanakan di Desa Dampulo Kabupaten Aceh Besar, pada hari Sabtu tanggal 13-14 Maret 2010 mulai dari pukul 09.00 - 17.00 wib.

3.2 Masyarakat Sasaran
            Sasaran bakti profesi ini adalah kelompok tani di Desa Dampulo yang dihadiri oleh 26 orang anggota kelompok tani.

3.3 Metode kegiatan
Kegiatan bakti profesi ini dilaksanakan yaitu survey ke lapangan dengan turun ke lokasi areal persawahan padi para kelompok tani serta penyuluhan yaitu wawancara dengan para kelompok tani di Desa Dampulo.
Adapun materi penyuluhan yang diberikan dalam pelaksanaan bakti profesi ini yaitu:
1.      Memberikan definisi kepada kelompok tani
2.      Memperkenalkan jenis-jenis OPT secara umum dan memperkenalkan tehnik pengendalian yang cocok.
3.      Menjelaskan mengenai beberapa kerugian yang disebabkan oleh OPT yang dominan pada tanaman padi
4.      Tanya jawab mengenai permasalahan petani mengenai OPT pada tanaman padi dan solusinya





















IV.             KEADAAN UMUM DAN LETAK GEOGRAFIS

4.1.Keadaan Umum Daerah Bakti Profesi
Daerah tingkat II Aceh Besar yang terletak antara 05 : 5 garis Lintang Utara dan 05:13 garis Bujur Timur. Wilayah kecamatan Ingin Jaya salah satu kecamatan yang terletak di Daerah Tingkat II Aceh Besar dengan ibu kota Lambaro dengan luas wilayah 99.18 ha, mempunyai  jumlah penduduk 27.787 jiwa, 10 mukim 54 desa dan 1 kelurahan.
Adapun batas-batas wilayah Kecamatan Ingin Jaya adalah sebagai berikut:
-       Sebelah utara berbatasan Kecamatan Kuta Baro
-       Sebelah selatan berbatasan Kecamatan Montasik
-       Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Darul Imarah
-       Sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Suka Makmur

Nama-nama desa serta luas masing desa dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1. Nama-nama Desa serta Luas Masing-masing dalam Kecamatan
               Ingin Jaya
No
Mukim
Nama Desa
Luas Desa (ha)
1.






2.




3.



4.


5.






6.









7.




8.










9.



10.





Lamteungoh






Ulee Kareng




Lam Ujong



Pango


Lam garot
(Luas 5.20 km)





Gani
(Luas 8.46 km)








Cot Saluran(Luas 26.00 km)



 Lamjapok (Luas 22.00 Km)









Lubok
(Luas 4.74 km2)


Pagar Air(Luas 12.28 km)
-          Kelurahan Lambaro
-          Bada
-          Pasi Lubok
-          Lampreh
-          Ujong XII
-          Latengoh
-          Kaye Lhee
-          Meunasah Papeun
-          Meunasah Baktrieng
-          Lueng Le
-          Rumput
-          Lamgapang
-          Meunasah Mayang
-          Meunasah Baet
-          Meunasah Intan
-          Gla Meunasah Baro
-          Gila Deyah
-          Miruk
-          Lampeureume
-          Bakoi
-          Meunasah Mayang L.G
-          Meunasah Tutong
-          Meunasah Dayah
-          Meunasah Baro
-          Siron
-          Pasi
-          Ateuk anggok
-          Ateuk Lueng ie
-          Teubang Phui
-          Bueng Ceukok
-          Gani
-          Ajee Cut
-          Ajee Rayeuk
-          Cot Suruy
-          Cot Bada
-          Cot Alue
-          Cot Madhi
-          Bueng sidom
-          Cot Karieng
-          Cot Malem
-          Gampong Blang
-          Lambada
-          Paleuh Pulo
-          Paleuh Blang
-          Lam Oe
-          Lamdaya
-          Cot Gud
-          Cot Meuntiwan
-          Lampreh
-          Lam Cot
-          Lamsinyeu

-          Lubok sukon
-          Lubok Gapuy
-          Dampulo
-          Dham Ceukok
-          Meunasah Kalud
-          Meunasah Manyet
-          Menasah Ajee
-          Reuloh
-          Tanjong
-          Meunasah Manyang
-          Santan
-          Meunasah Krueng
-          Pantee
-          Bineh Blang
-          Jurong peujara
343
325
159
245
231
286
511
120
75
70
80
105
65
60
75
80
46
65
58
61
62
70
75
80
85
87
65
70
75
81
778
58
60
154
109
 96
500
150
300
350
1300
250
40
40
150
100
150
150
250
250
100

28
112
118
166
125
75
110
100
110
10
50
55
130
100
188
Sumber: Bagian Pemerintah Sekdakab Aceh besar

4.2.Keadaan Lingkungan
Keadaan lingkungan merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman, salah satu faktor lingkungan yang sangat berpengaruh adalah faktor iklim. Unsur-unsur iklim antara lain terdiri dari curah hujan (presipitasi), tempratur, kelembaban udara, kecepatan angin, tekanan udara dan intensitas penyinaran matahari.
Keadaan iklim di Kecamatan Ingin Jaya tidak berbeda jauh dengan Kecamatan lainnya dalam Kabupaten Aceh Besar yang termasuk beriklim tropis, daerah ini memiliki dua musim yaitu musim hujan antra bulan Oktober - Maret dan musim kemarau antara bulan Juni - bulan September.  Suhu rata-rata 220 C - 310 C dan kelembaban udara 62-78 %.

4.3.Keadaan Tanah dan Topografi
Tanah merupakan salah satu faktor penting bagi tanaman sebagai tempat tumbuhnya tanaman. Pada umumnya jenis tanah yang terdapat di Kecamatan Ingin Jaya adalah tanah alluvial, podsolik dan regosol.
Topografi adalah perbedaan tinggi rendah dan keragaman permukaan tanah yang dapat mempengaruhi penggunaan tanah, kesuburan serta produktivitas tanah. Kecamatan Ingin Jaya merupakan daerah yang bertopografi datar dan landai dengan ketinggian rata-rata 18 m dari permukaan laut (Divisi pengembangan pertanian,kantor kecamatan Ingin Jaya).








V. HASIL KEGIATAN

5.1 Hasil Kegiatan
Berdasarkan hasil dari kegiatan bakti profesi, dapat dilihat bahwa ada sebagian besar petani di desa Dampulo yang masih menggunakan pestisida untuk mengendalikan OPT, padahal di desa tersebut sudah diterapkan sistem pertanian organik.
Menurut penjelasan para petani, yang paling sulit untuk mereka kendalikan diantara OPT tersebut adalah hama keong mas dan tikus, sedangkan hama walang sangit dan kepinding tanah tidak terlalu dominan.  Hal ini mungkin saja karena pada saat itu padi tidak berada pada taraf padi matang susu tetapi padi sudah menjelang panen, sedangkan untuk pengendalian gulma, petani melakukan pengendalian dengan cara mencabut gulma yang ada di persawahan padi.
Pengendalian OPT secara terpadu dengan menggabungkan teknik pengendalian cara mekanik dan kultur teknik merupakan teknik pengendalian yang dapat digunakan untuk mengendalikan OPT, serta cocok untuk diterapkan pada sistem pertanian organik dibanding dengan teknik pengendalian yang lain. Akan tetapi, teknik pengendalian ini menuntut pengetahuan dari petani mengenai biologi OPT untuk mengefektifkan pengendaliannya.
Adapun jenis OPT yang dijumpai dan cara pengendalian yang dilakukan oleh petani  adalah sebagai berikut :

1.      Walang sangit (Leptocorixa acuta)
Pengendalian yang dilakukan oleh petani di desa dampulo yaitu dengan cara menangkap langsung dengan menggunakan jaring, menurut penjelasan dari para petani, penggendalian dengan menggunakan jaring sangat rumit dan sudah jarang dilakukan, dikarenakan hama walang sangit tidak terlalu berat serangannya, petani jarang melakukan pengendalian terhadap hama ini.

2.      Tikus (Rattus argentiventer)
Pergiliran tanaman, sanitasi, menjaga musuh alami seperti ular dan memberikan umpan beracun seperti seng fosfat yang di campur dengan jagung atau beras adalah cara pengendalian yang selama ini di lakukan oleh para petani di desa dampulo, walaupun masih belum maksimal cara yang di lakukan oleh petani dalam mengendalikan tikus, tetapi sudah banyak peningkatan.

3.      Keong mas (Pomecea canaliculata)
Para petani di desa dampulo melakukan pengendalian dengan cara memungut keong mas dan menghancurkan telurnya. Hal ini paling baik dilakukan di pagi dan sore ketika keong mas berada dalam keadaan aktif.  Untuk menarik keong mas dewasa dan telurnya petani menggunakan tongkat bambo, disamping itu melepas bebek peliharaan di areal yang banyak terdapat keong mas, karena bebek memakan keong mas muda. Orang memakan dagingnya jika telah dimasak dengan benar dan tikus sawah juga memakan rumah siput dan dagingnya.

4.      Kepinding Tanah
Pembajakan segera setelah panen, supaya sisa tanaman padi ikut terbenam dalam lumpur. Bebek juga dapat dimanfaatkan oleh para petani dalam upaya mengendalikan hama ini.  
5.      Gulma  rumput teki-tekian (Cyperus rotundus)
Untuk pengendalian gulma jenis teki-tekian, para petani di desa dampulo melakukan pengendalian dengan cara mencabut, menyiangi langsung gulma yang ada di areal persawahan pada saat umur padi 20 hari setelah tanam, setelah itu melakukan pengecekan setiap seminggu 2 kali ke areal persawahan untuk memastikan keberadaan gulma tersebut, pengendalian yang dilakukan oleh para petani sangat baik, sehingga kemungkinan terjadinya persaingan antara gulma dengan pertanaman padi tidak muncul.

5.2  Faktor pendukung
            Kegiatan bakti profesi di Desa Dampulo Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar, dapat terlaksanakan karena adanya beberapa faktor pendukung yaitu :
a.       Tersedianya kenderaan kendaraan pribadi dari setiap peserta bakti profesi.
b.      Tersedianya tempat untuk memberikan bimbingan penyuluhan pertanian.
c.       Adanya dosen pembimbing selama mengikuti kegiatan bakti profesi.
d.      Adanya alat-alat elektronik seperti Infokus dan laptop yang membantu pemahaman pada saat memberikan penyuluhan pada petani.
e.       Adanya kamera digital yang membantu dalam mendokumentasikan kegiatan ini.
f.       Adanya pembimbing yang banyak memberikan masukkan dalam pelaksanaan penyuluhan kepada petani padi.
g.      Adanya Dosen yang ahli dalam bidangnya yang bisa memberikan penjelasan secara lebih detail.

5.3.Faktor Penghambat
            Selama menjalankan bakti profesi ini, ada beberapa faktor penghambat namun tidak begitu mengganggu kegiatan. Salah satu kendala yang dirasakan adalah sulitnya mendapatkan data yang valid tentang aktivitas dan data pertanian dari pejabat desa setempat, sehingga menghambat mahasiswa dalam penyelesaian laporan kegiatan bakti profesi.










VI .KESIMPULAN DAN SARAN

6.1.Kesimpulan
1.      OPT yang menyerang tanaman Padi di Desa Dampuloe Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar : walang sangit (leptocorixa acuta ), tikus ( rattus argentiventer ), kepinding tanah (Scotinophara lurida), keong mas (Pomacea canaliculata), dan gulma  (Cyperus rotundus ).
2.      Secara umum serangan OPT di pertanaman Padi di Desa Dampulo Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar tergolong masih ringan, dan masih belum mencapai ambang ekonomi, dikarenakan petani setempat menjaga dan merawat tanaman padi tersebut dengan baik .

6.2.Saran
Walaupun serangan OPT pada tanaman Padi di Desa Dampulo Kecamatan Ingin Jaya masih rendah, namun petani harus tetap secara intensif memelihara sawahnya. Usaha tersebut dapat berupa sanitasi, pergiliran tanaman, maupun penggunaan pestisida yang berspektrum sempit secara bijaksana.





DAFTAR PUSTAKA


Divisi Pengembangan Produksi pertanian. 1973. Pedoman Bercocok tanam palawija. Departemen pertanian jakarta

Kartasapoetra. AG. 1993. Hama tanaman Pangan dan perkebunan. Bumi Aksara, Jakarta

Tjoe Tjien. Mo. 1953. Memberantas hama Padi Sawah dan gudang. Jakarta
Balai Penelitian Tanaman Padi. 2005. Padi Adalah Kehidupan. http://Balitpa Litbang. Depta.go.id. Balai Tanaman Padi Online. Jawa Barat Diakses 25 juni 2010.

Pracaya. 2007. Hama dan Penyakit Tumbuhan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rismunandar. 1981. Hama Pada Tanaman Pangan dan pengendaliannya. Sinar Baru.         Bandung.

Harahap, I. S. dan B. Tjahjono. 1994. Pengendalian Hama Penyakit Padi. Penebar             Swadaya. Jakarta.

Pitojo, S. 1996. Petunjuk Pengendalian dan Pemanfaatan Keong Mas. Trubus        Agriwidya. Yogyakarta.

Ginting S, 1997. Pemamfaatan Hama Padi Siput Murbei (keong mas) sebagai Pakan          Itik. Universitas Sumatera Utara. Medan.


Anonymous. 1981. Hama dan Penyakit Tanaman Padi. Badan Pengendalian dan   Latihan Penyuluhan Pertanian. Jakarta.

Susanto, H. 1996. Siput Murbei. Pengendalian dan Pemanfaatan. Kanisius.            Yogyakarta.





LAMPIRAN


Gambar 1.  Foto seluruh peserta bakti profesi bersama dosen pembimbing dan    kelompok petani


Gambar 2.  Hama yang menyerang padi Petani
Gambar 3.  Anggota kelompok tani lagi mendengarkan penyuluhan tentang OPT pada tanaman padi


Gambar 4.  Suasana pada saat penyuluhan, salah satu dosen lagi menjelaskan cara mengendalikan gulma.



Gambar 5. Salah satu hama yang menyerang tanaman padi




Gambar  6.  Suasana di areal persawahan tanaman padi



Gambar 7. Suasana para mahasiswa pada saat survey di lapangan,


Gambar 8.  Salah satu mahasiswa lagi melihat OPT yang menyerang tanaman padi

Komentar