INVENTARISASI HAMA DOMINAN PADA TANAMAN PALA (Myristica Fragrans Houtt) DI KECAMATAN MEUKEK KABUPATEN ACEH SELATAN


I. PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
            Tanaman pala (Myristica Fragrans Hountt) merupakan salah satu komoditas ekspor non migas, biji dan kulitnya dapat diolah menjadi minyak atseri dan rempah. Daging buahnya dapat juga diolah untuk berbagai macam produk yang nilai ekonominya cukup tinggi seperti sirup pala, manisan pala, kolak pala dan lain-lain. Disamping itu pala dapat dipergunakan sebagai bahan baku obat-obatan, baik secara tradisional maupun secara modern (Dharma, 1985).
            Kabupaten Aceh Selatan terkenal dengan daerah pala karena Daerah ini juga dikenal sebagai penghasil pala terbesar kedua di Indonesia setelah Provinsi Maluku (Mulyono, 1997).
            Tanaman pala merupakan tanaman primadona (tanaman unggulan lokal), di daerah Aceh Selatan, karena tanaman ini hampir merata dibudidayakan oleh masyarakat.  Hasilnya mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi serta cukup berarti sebagai sumber pendapatan utama sebagian besar petani maupun sebagai salah satu sumber pendapatan daerah (DISHUTBUN Aceh Selatan 2003).
            Berdasarkan data hasil statistik Dinas Perkebunan tahun 2003  luas areal tanaman pala hanya tinggal 9.843 Ha, diantaranya 4.424 Ha merupakan tanaman menghasilkan dengan total produktivitas rata-rata 1,1 ton.haˉ¹ pertahun dari tanaman yang belum menghasilkan seluas 2,289 Ha, sedangkan luas tanaman yang rusak 3,310 Ha (DISHUTBUN Aceh Selatan 2003).
            Luas areal tanaman pala sebelumnya mencapai 11,245 Ha (1994) dengan produksi 8,647 ton, terjadi pengurangan areal seluas 1,402 Ha dengan produksi 3,710 ton, penurunan areal ini akibat terjadi serangan hama penggerek batang dan serangan penyakit busuk buah,sehingga dalam waktu relatif singkat telah mengubah sebagian hamparan pala rakyat menjadi ranting kering di Kabupaten Aceh selatan (DISHUTBUN Aceh Selatan 2003).
            Tingkat serangan tersebut telah berada di atas amabang ekonomi yang mengakibatkan kehilangan panen atau penurunan produksi pala rata-rata pertahun ± 463,75 ton selama 8 tahun (1994-2002).  Perhitungan kehilangan panen di maksud setara dengan kerugian atau kehilangan pendapatan petani pada tingkat tenaga minimal saat ini Rp. 20.000,-per kg, bila keadaan ini tidak segera di kendalikan maka kerugian yang diderita oleh petani dan kehilangan salah satu sumber pendapatan daerah (DISHUTBUN Aceh Selatan 2003).

1.2.Tujuan
Untuk mengetahui hama-hama dominan pada tanaman pala rakyat di Kecamatan Meukek, Kabupaten Aceh Selatan dan pengendaliannya.






II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.      Tanaman Pala
2.1.1.      Diskripsi tanaman pala
Menurut Cere (1961) tanaman Pala di deskripsikan sebagai berikut :
Kelas               : Angispermae
Sub kelas         : Dicotiledonae
Ordo                : Ramales
Family             : Myristicaceae
Genus              : Myristca
Species            : Myristica fragran HOUTT
Pala (Myristica fragran Houtt) merupakan tanaman buah berupa pohon tinggi asli Indonesia, karena tanaman ini berasal dari Banda dan Maluku. Jika dilihat data pada tahun 1971 lalu, luas tanaman pala di Indonesia sekitar 22.809 hektar dengan daerah penyebaran yang terpusat di Sulawesi, Irian Jaya. Aceh dan Maluku.  Tanaman pala memiliki beberapa jenis, antara lain:
1.      Myristica fragrans Houtt,
2.      Myristica argentea Ware,
3.      Myristica fattua Houtt,
4.      Myristica specioga Ware,
5.      Myristica Sucedona BL,
6.      Myristica malabarica Lam.
Jenis pala yang banyak diusahakan adalah terutama Myristica fragrans, sebab jenis pala ini mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi daripada jenis lainnya. Disusul jenis Myristica argentea dan Myristica fattua. Jenis Myristica specioga, Myristica sucedona, dan Myristica malabarica produksinya rendah sehingga nilai ekonomisnya pun rendah pula (cere, 1961).

2.1.2.       Manfaat Tanaman
Selain sebagai rempah-rempah, pala juga berfungsi sebagai tanaman penghasil minyak atsiri yang banyak digunakan dalam industri pengalengan, minuman dan kosmetik. Manfaat tanaman pala cukup banyak tergantung pada bagian tanaman. Batang/kayu pohon pala yang disebut dengan “kino” hanya dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Kulit batang dan daun tanaman pala menghasilkan minyak atsiri . Fuli (bagian yang menyelimuti biji pala yang berbentuk seperti anyaman pala, disebut “bunga pala”) dalam bentuk kering banyak dijual di dalam negeri (Hadad dan M. Syakir, 1992).
Biji pala tidak pernah dimanfaatkan oleh orang-orang pribumi sebagai rempah-rempah. Buah pala sesungguhnya dapat meringankan semua rasa sakit dan rasa nyeri yang disebabkan oleh kedinginan dan masuk angin. Biji pala sangat baik untuk obat pencernaan yang terganggu, obat muntah-muntah dan lain-lainya.  Daging buah pala sangat baik dan sangat di gemari oleh masyarakat jika telah diproses menjadi makanan ringan, misalnya: asinan pala, manisan pala, marmelade, selai pala, kristal daging buah pala (Hadad dan M. Syakir, 1992).
2.1.3.      Syarat Tumbuh
a.        Iklim
Tanaman pala juga membutuhkan iklim yang panas dengan curah hujan yang tinggi dan agak merata/tidak banyak berubah sepanjang tahun.  Suhu udara lingkungan 20-30 C° sedangkan, curah hujan terbagi secara teratur sepanjang tahun. Tanaman pala tergolong jenis tanaman yang tahan terhadap musim kering selama beberapa bulan (lubis,1992).
b.       Media Tanam
Tanaman ini membutuhkan tanah yang gembur, subur dan sangat cocok pada tanah vulkanis yang mempunyai pembuangan air yang baik. Tanaman pala tumbuh baik di tanah yang bertekstur pasir sampai lempung dengan kandungan bahan organik yang tinggi.  Sedangkan pH tanah yang cocok untuk tanaman pala adalah 5,5 – 6,5. Tanaman ini peka terhadap gangguan air, maka untuk tanaman ini harus memiliki saluran drainase yang baik (Rismunandar, 1987).
Pada tanah-tanah yang miring seperti pada lereng pegunungan, agar tanah tidak mengalami erosi sehingga tingkat kesuburannya berkurang, maka perlu dibuat teras-teras melintang lereng (Rismunandar, 1987).
c.       Ketinggian Tempat
Tanaman pala dapat tumbuh baik di daerah yang mempunyai ketinggian 500-700 m dpl. Sedangkan pada ketinggian di atas 700 m, produksitivitas tanaman akan  rendah (atjung, 1985).
2.1.4.      Pedoman Budidaya
Tanaman pala yang merupakan tanaman daerah tropis, untuk dapat berkembangbiak, tumbuh, dan mengahsilkan buah yang banyak, tidak luput dari pengaruh lingkungan makro dan mikro.  Tanaman pala bisa berumur panjang hingga lebih dari 100 tahun, untuk itu membutuhkan lingkungan yang tentunya sangat berbeda dengan tanaman yang berumur pendek (Rismunandar, 1987).
a.       Penyiapan Benih yang Bermutu
            Benih merupakan salah satu faktor penentu usaha keberhasilan usaha petani pala.  Benih yang baik akan menghasilkan tanaman yang bagus.  Perbanyakan tanaman pala dilakukan dengan biji, biji pala berbentuk oval, permukaannya mengkilat liat dan agak keras.  Warna kulit coklat kehitaman.  Sebelum penanaman bibit pala harus disemaikan terlebih dahulu (DISHUTBUN Aceh Selatan 2003).
b.      Persemaian
Tanah untuk persemaian di cangkul sedalam ± 30 cm dibuat bedengan dengan arah utara-selatan lebarnya 1,5, m dan panjang 5-10 cm, tinggi ± 15 cm diatas bedengan di hamparan pasir setebal ± 3 cm, diberi naungan setinggi 2 m dan atapnya dibuat dari daun kelapa, jerami, atau belahan bambu (DIRJEN Perkebunan, 1996).
Pada persemaian biji-biji di kecambahkan sedalam 1 cm dengan jarak 5x5 cm atau dapat juga bersentuhan dan tidak boleh terbalik dengan jalur putih, pada kulit biji diletakkan pada bagian bawah.  Setelah 4-8 minggu bakal akar sudah keluar dan dapat dipindahkan kepersemaian atau kedalam kantong plastik, setelah umur 1 tahun sudah dapat di pindahkan ke lapangan (Lubis, 1992).
c.       Penanaman
Bibit yang sudah layak pindah bisa langsung di tanam kemudian di tanam dengan jarak tanam 9x9 m atau 10x10 m.  Lubang tanam sekurang-kurangnya di buat sebulan tanam dengan ukuran 60x60x60 cm, dengan tanah bagian atas di pisahkan dengan tanah bagian bawah. 1 minggu sebelum tanam, lubang di timbun kembali dengan tanah bagian bawah di kembalikan ke bagian bawah , dan tanah atas di kembalikan ke bagian atas dan di campur dengan pupuk kandang yang telah matang sebanyak 10-20 kg (DISHUTBUN Aceh Selatan 2002).
Pada waktu penanaman kantong plastik harus dibuka terlebih dahulu, leher bibit akar bibit di tanam dengan bakal permukaan tanah.
d.      Pemeliharaan
Tanaman pala yang baru ditanam tidak tahan terhadap sinar matahari yang langsung.  Oleh karena itu perlu ditanam pohon pelindung yang cukup, setelah tanaman berumur 4-5 tahun pohon pelindung ber angsur-angsur diperjarang.
Penyulaman bibit yang mati atau pertumbuhannya kurang baik perlu diganti, penyiangan dilakukan secara teratur tiap 3 bulan sekali (Lubis, 1992).
e.       Pemupukan
Supaya pertumbuhan tanaman cukup baik dan produksi tinggi perlu di lakukan pemupukan secara teratur setiap tahunnya yang di berikan selama 2 kali yaitu ; pada awal dan pada akhir musim hujan.  Pada luas ujung daun di buat melingkar sedalam ± 15 cm.  Pupuk ditaburkan kedalam parit tersebut kemudian di tutup kembali.  Untuk tanaman yang telah menghasilkan pupuk diberikan sebanyak 750-1000 gram pupuk NPK untuk setipa kali pemberian.  Dapat juga menggunakan pupuk kandang 10-20 kg perpohon/pertahun (Husaini, 1992).

2.2.      Hama Tanaman Pala
2.2.1.      Penggerek batang (Batocera sp)
Tanaman pala yang terserang oleh hama ini dalam waktu tertentu dapat mengalami kematian. Gejalanya  terdapat lubang gerekan pada batang diameter 0,5–1 cm, di mana didapat serbuk kayu.
Pengendalian hama ini dilakukan dengan cara menutup lubang gerekan dengan kayu/membuat lekukan pada lubang gerekan dan membunuh hamanya. Memasukkan/menginjeksikan (menginfuskan) racun serangga seperti Dimicron 199 EC dan Tamaran 50 EC sistemik ke dalam batang pohon pala menggunakan alat bor, dosis yang dimasukkan sebanyak 15–20 cc dan lubang tersebut segera ditutup kembali.
Menurut Kalshoven (1981) hama penggerek batag pala di Klasifikasikan sebagai berikut :
Filum                     : Artrhopoda
Kelas                     : insecta/Hexapoda
Ordo                      : Coleoptera
Famili                    : Cerambycidae
Genus                    : Batocera
Species                  : Hercules
Nama ilmiah          : Batocera Herules

2.2.2.      Rayap
Serangga sosial anggota bangsa Isoptera yang dikenal luas sebagai hama penting bagi kehidupan manusia dan juga tanaman. Rayap bersarang di dalam batang tanaman yang masuk melalui akar tanaman pala.
Sebutan rayap sebetulnya mengacu pada hewannya secara umum, padahal terdapat beberapa bentuk berbeda yang dikenal, sebagaimana pada koloni semut atau lebah sosial. Dalam koloni, rayap tidak memiliki sayap. Namun demikian, beberapa rayap dapat mencapai bentuk bersayap yang akan keluar dari sarangnya secara berbondong-bondong pada awal musim penghujan (sehingga seringkali menjadi pertanda perubahan ke musim penghujan) di petang hari dan beterbangan mendekati cahaya. Bentuk ini dikenal sebagai laron atau anai-anai.
Hama anai-anai/rayap mulai menyerang dari akar tanaman pala, masuk ke pangkal batang dan akhirnya sampai ke dalam batang.  Gejala: terjadinya bercak hitam pada permukaan batang, jika bercak hitam itu dikupas, maka sarangan dan saluran yang dibuat oleh anai-anai (rayap) akan kelihatan. Pengendalian: menyemprotkan larutan insektisida pada tanah di sekitar batang tanaman yang diserang, insektisida disemprotkan pada bercak hitam supaya dapat merembes kedalam sarang dan saluran-saluran yang dibuat oleh anai-anai tersebut.
Berikut ini Klasifikasi nya :
Domain           : Eukariota
Kerajaan          : Animalia
Upakerajaan    : Metazoa
Filum               : Artropoda
Kelas               : Serangga
Ordo                : Isoptera















III. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

3.1. Letak dan Luas Daerah
            Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatanberada pada posisi  dengan ketinggian 50 meter diatas permukaan laut.
            Berdasarkan peta wilayah Kecamatan Meukek adalah sebagai berikut:
-          Sebelah Utara              : Kecamatan Labuhan Haji Timur
-          Sebelah  Selatan          : Kecamatan Sawang
-          Sebelah Barat              : Samudra Hindia
-          Sebelah Timur             : Kabupaten Aceh Tenggara
Luas wilayah Kecamatan Meukek seluruhnya ± 40.839,00 Ha, yang terdiri dari 22 desa dan 4 mukim (tabel 1).
Tabel 1. Data Desa dalam wilayah Kecamatan Meukek pada tahun 2008
No
Nama Desa
Luas wilayah (Ha)
1
Alue metuah
2,000.00
2
Lhok Aman
1,250.00
3
Ladang Baro
2,500.00
4
Labuhan Tarok
2,100.00
5
Tanjung Harapan
1,250.00
6
Kuta Baro
8,50.00
7
Keude Meukek
1,050.00
8
Aron Tunggai
1,050.00
9
Blang Bladeh
1,050.00
10
Blang Teungoh
1,600.00
11
Ie Buboh
1,900.00
12
Kuta Buloh II
1,150.00
13
Kuta Buloh I
1,250.00
14
Ie Dingin
1,250.00
15
Drien Jaloe
1,500.00
16
Jamboe Papeun
8,139.00
17
Bukit Mas
3,000.00

Tabel 1. lanjutan
No
Nama Desa
Luas wilayah (Ha)
18
Alue Baroe
2,500.00
19
Rot Teungoh
1,450.00
20
Blang Kuala
1,800.00
21
Ladang Tuha
1,150.00
22
Lhok Mamplam
1,050.00
Jumlah
40,839.00
Sumber data: Kantor Camat Kecamatan Meukek tahun 2008

3.2. Keadaan Iklim dan  Tanah
a. Iklim
Tipe iklim Kabupaten Aceh Selatan termasuk type A (Smith dan Ferguson) dengan rata-rata curah hujan tahunan cukup tinggi, yaitu berkisar antara 3.000-5.000 mm/tahun, bulan Januari sampai dengan bulan Agustus merupakan bulan-bulan kering (musim kemarau), namun demikian tidak pernah terjadi bulan kering, bulan kering (curah hujan < 100 mm) sedangkan bulan basah (musim hujan) biasanya terjadi pada bulan September sampai dengan Desember, dimana rata-rata curah hujan pada bulan basah > 200 mm, suhu berkisar antara 20 0 C – 37 0 C dengan kelembaban udara berkisar 80 – 90 % dan lama penyinaran matahari rata-rata 10 jam/hari. Untuk lebih jelasnya data curah hujan dan hari hujan seperti terlihat pada tabel lampiran 1.

b. Kondisi Tanah
1.  Topografi
Secara garis besar topografi wilayah Kabupaten Aceh Selatan merupakan dataran rendah-tinggi dengan kemiringan rata-rata 15-40 %.
2.       Jenis Tanah
Hasil survey Tim BPP Bogor, Sub Balai Penelitian Budidaya Jember, Balai Penelitian Perkebunan Besar (RISPA) Medan dan Kanwil Pertanahan Nasional Nanggroe Aceh Darussalam. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel 3 berikut :
Tabel 2, Jenis Tanah,  Luas  Tanah  dan   Persentase  Penyebaran di Kabupaten Aceh Selatan.
No.
Jenis Tanah
Luas (Ha)
Persentase (%)
1
Organosol
80.703
19,30
2
Podsolik Merah Kuning
218.231
52,14
3
Litosol
76.618
18,31
4
Regosol
8.531
2,13
5
Latosol
15.78
3,94
6
Renzina
11.374
2,84
7
Lainnya
7.329
1,83
Jumlah
418.556
100
Sumber data:  Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Aceh Selatan
           
3.      Ketinggian Tempat
Kabupaten Aceh Selatan terletak pada ketinggian 0 – 1.200 meter di atas permukaan laut (dpl).
4.       Luas Daerah Berdasarkan Keadaan Drainase     
Luas wilayah Kabupaten Aceh Selatan berdasarkan keadaaan drainase bervariasi, antara lain tidak tergenang, tergenang periodik dan tergenang terus menerus.
5.      Luas Wilayah Berdasarkan Kedalaman Efektif  Tanah
Luas wilayah Kabupaten Aceh Selatan berdasarkan kedalaman efektif tanah, bervariasi antara 30- 90 cm.
\


3.3. Keadaan Penduduk dan Mata Pencaharian
            Berdasarkan data terakhir dari Kantor Camat Meukek, jumlah rumah tangga sebanyak 2507 kepala keluarga,dan sangat beragam jenis mata pencahariannya,untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table 3 berikut.
Tabel 3. Mata Pencaharian Penduduk di Kecamatan Meukek
No
Jenis  Mata Pencaharian
Jumlah kepala keluarga
1
Petani tanaman pangan dan perkebunan
1,109
2
Nelayan
368
3
Pedagang
520
4
Industri/pertukangan
224
5
Pegawai negeri
171
6
Buruh/pegawai swasta
622
7
Lainnya
970
Jumlah
2507
Sumber data: Koordinator Statistik Kecamatan angka tahun 2009













IV. BAHAN DAN METODE PRAKTEK LAPANG

4.1. Tempat dan Waktu Penelitian
            Kegiatan Praktek Lapangan ini akan dilakukan di 4 desa di Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan yang akan dilaksanakan pada tanggal  20 januari sampai dengan selesai.

4.2. Bahan dan alat praktel lapangan
            Dalam praktek lapangan ini bahan dan alat yang digunakan adalah kantong plasti,pisau runcing,parang,dan alat tulis

4.3. Metode Penelitian
            Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah Metode survey dan observasi secara langsung pada areal pertanaman pala.pengumpilan Data diperoleh melalui 2 cara yaitu:
a. Data Primer
            Data primer diperoleh dengan cara pengamatan langsung kea real pertanaman pala dan wawancara dengan pemilik kebun dan petani di kawasan daerah yang akan dijadikan sampel
            Pengamatan yang akan dilakukan yaitu persentase tanaman terserang dan intensitas tanaman terserang
b. Data Sekunder
            Data sekunder dipeoleh dari Dinas atau Instansi terkait yang berada diwilayah praktek lapang, dari studi kepustakaan serta, dari pihak-pihak lain yang ada hubungannya dengan praktek lapang ini.
c. Teknik pengambilan sample
            Praktek lapangan ini dilaksanakan di Kecamatan Meukek,dan hanya 4 desa yang akan dijadikan sample penelitian,dalam satu desa akan diambil 2 kebun percobaan yaitu desa : Rotteungoh,Ie buboh, Jamboe papuen,alue baroe.setiap kebun diambil 15 pohon sample secara acak,jadi keselurahannya adalah 120 pohon yang akan menjadi sample penelitian.untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut :
Tebel 4. Metode pengambilan sampel praktek lapangan di kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan
d. peubah yang diamati
            adapun peubah yang diamati adalah :
1.      Kondisi Pertanaman Pala
Pengamatan terhadap kondisi pertanaman pala secara kualitatif yaitu dengan melihat keadaan pertanaman pala antara lain cara perwatan kebun, kebersihan kebun, dan jarak tanam.
2.      Persentase Serangan
Ada pun cara untuk menghitung persentase serangan dengan menghitung jumlah pohon sampel yang terserang dengan menggunakan rumus Understenhofer (1963) sebagai berikut, yaitu ;
           α
P =-------- x100%
         α+b
      
Keterangan :
P          = Persentase serangan
a          = Jumlah pohon sampel yang terserang
b          = jumlah pohon sampel yang tidak terserang
Tahan              : intensitas serangan 0-10%
Agak tahan      : intensitas serangan 11-40%
Agak rentan    : intensitas serangan 41-60%
Rentan             : intensitas serangan > 60%















V. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


5.1. Luas Areal dan Cara Petani Menanam Pala
            Menurut data dari kantor kecamatan meukek bahwa luas wilayah kecamatan meukek seluas 40,839 Ha dan luas areal pertanaman pala seluas 3.369 Ha di selurh kecamatan meukek.
            Pohon pala di kecamatan meukek umumnya dikelola oleh petani dengan teknik bududaya dan pengolahan pasca panen yang masih sederhana.
            Hasil pengamatan dilapangan tingkat perawatan kebun yang dilakukan oleh petani pala kurang baik, hal ini terlihat dari segi kebersihan kebun, dimana di areal pertanaman pala di jumpai gulma seperti ilalang (Imperata cylindrical), kerinyuh (Enpatorium Odoratum), dan gulma dari jenis paku-pakuan,selain itu terlihat banyak tumpukan kayu dari batang pala maupun pohon lainnya, dan juga banyak terlihat cabang, ranting kulit buah yang membusuk di areal perkebunan,kemudian banyak pohon pala yang sudah mati di biarkan tegak begitu saja dan tidak di tebang,

5.2. Persentase Serangan
            Hasil persentase hama yang dominan pada tanaman pala dapat dilihat pada tabel berikut :



Tabel 4. Rata-rata persentase serangan hama penggerek batang pala (Batocera sp) di Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan.
Kecamatan
Desa
Persentase serangan Hama Penggerek batang pala (Batocera sp) dalam %
Berat
Ringan
Sehat
Meukek
Rotteungoh



Kebun 1
40
33
27
Kebun 2
45
30
25
Ie buboh
Kebun 1
60
17
23
Kebun 2
55
20
25
Jamboe papeun
Kebun 1
48
22
30
Kebun 2
36
20
44
Alue baroe
Kebun 1
52
28
20
Kebun 2
37
43
20
Jumlah
373
213
214
Rata-rata
46,6%
26,6%
26,7%

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa hama penggerek batang Batocera sp di kecamtan meukek sangat mengkhawatirkan, dimana dimana katagori serangan berat memiliki persentase 46.6% katagori serangan ringan 26,6% sedangkan tanaman yang masih sehat 26,7%.
Tabel 5. Rata-rata persentase serangan hama rayap di Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan.
Kecamatan
Desa
Persentase serangan Hama rayap dalam %
Berat
Ringan
Sehat
Meukek
Rotteungoh



Kebun 1
33
27
40
Kebun 2
41
39
20
Ie buboh



Kebun 1
60
23
17
Kebun 2
51
29
20

Tabel 5.  Lanjutan
Kecamatan
Desa
Persentase serangan Hama rayap dalam %
Berat
Ringan
Sehat
Meukek
Jamboe papeun



Kebun 1
48
30
22
Kebun 2
32
28
40
Alue baroe



Kebun 1
42
28
30
Kebun 2
47
33
20
Jumlah
354
237
209
Rata-rata
44,2%
29,6%
26,1%

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa hama penggerek batang rayap di kecamatan meukek sangat mengkhawatirkan, dimana dimana katagori serangan berat memiliki persentase 44,2% katagori serangan ringan 29,6% sedangkan tanaman yang masih sehat 26,1%.
            Kerusakan berat yang ditimbulkan oleh hama-hama yang terlihat pada kedua tabel diatas dikarenakan beberapa faktor yaitu lahan/kebun yang dijadikan untuk tanaman pala kurang terawat dimana masih terdapat tumpukan-tumpukan kayu bekas pohon pala sampai berbuan-bulan, hal ini diakibat kan para petani pala tidak rutin berkebun dan hanya menikmati hasil panen saja tidak memperdulikan keadaan kebun.

5.3. Pengendalian yang dilakukan petani
            Berdasarkan hasil wawancara dengan petani pala usaha pengendalian hama-hama pada tanaman pala yang dilakukan petani di kecamatan meukek umumnya dilakukan dengan pemberantasan non kimiawi dan pemberantasan kimiawi. Tetapi karena kurangnya ilmu petani sering menggunakan pestisida yang kurang tepat baik dosis maupun jenisnya, disamping itu petani juga belum begitu mengerti cara aplikasi insektisida secara benar. Pemberantsan yang dilakukan yaitu :
1.      Pemberantasan non kimiawi
·         Cara pembudidayaan tanaman pala sesuai anjuran lapangan
·         Cara mekanis yaitu :
-    Menutup lubang gerekan yang masih mengeluarkan serbuk kayu dengan kayu dan tanah liat.
-          Mencari ulat/larva kemudian membunuhnya.
-          Membunuh kumbang, apbila ditemukan.
-          Memotong cabang-cabang yang terserang dan menebang pohon pala yang sudah mati kemudian membakarnya.
  • Cara biologi, yaitu perlindungan dan merangsang kehidupan musuh alami atau predator seperti burung murai batu dan lainnya.
2.      Pemberantasan kimiawi
Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan bahan kimia berupa racun serangga yang bersifat sistemik seperti bahan kimia yang mengandung bahan aktif, misalnya, tamaron 50 EC, dimecron 100 EC dan lainnya, cara aplikasi pestisida yang dilakukan petani adalah dengan injeksi batang pada tanaman pala atau menyumbat lubang gerekan dengan kain yang telah di celupkan ke pestisida.
Metode yang digunakan adalah dengan perlakuan :
a.       Injeksi batang pada tanaman pala
Cara pengendalian sangat praktis dan ekonomis dengan memasukkan insektisida kedalam tanaman yaitu, pada batangnya setelah dilakukan pengeboran terlebih dahulu dengan system dua lubang dengan dosis yang telah di tulis di produk insektisida




















VI. KESIMPULAN

6.1. Kesimpulan
            Dari hasil observasi dan pembahasan baik dilapangan dapat di tarik kesimpulan bahwa hama-hama yang dominan yang menyebabkan kerusakan pada tanaman pala di Kecamatan Meukek ada dua jenis antara lain adalah batocera sp dan rayap,dari persentase serangan yang sudah dijelaskan diatas tadi menunjukkan bahwa hama-hama tersebut sangat berbahaya dalam merusak tanaman pala di kecamatan meukek dan bisa ,mengakibatkan hasil produksi tanaman pala menurun.
            Pengendalian yang dilakukan oleh petani di kecamatan meukek umumnya dilakukan dengan pengendalian mekanis atau non kimiawi dan pengendalian dengan metode kimiawi.

6.2. Saran
            Para petani pala di Kecamatan Meukek harus lebih memelihara areal perkebunan,yaitu dengan membersihakan areal dari gulma-gulma dan ranting dari tanaman yangh sudah mati, karena apabila tidak di bersihakan akan mengndang datangnya hama-hama yang akan menyerang tanaman pala.
           




DAFTAR PUSTAKA


Atjung, 1985. Aneka Tanaman Industri. Wijaya. Jakarta
Cere, 1961. Budidaya Tanaman Pala dan Balai Penelitian Rempah dan Obat. VII, Bandung.
Dharma,A.p., 1985. Tanaman Obat Tradisional Indonesia, Balai Pustaka.Jakarta
DISHUTBUN 2002. Dinas Perkebunan dan Kehutanan, Pedoman Pengamatan dan Pengendalian Hama Penggerek batang (Batocera sp) Pada Tanaman Pala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Aceh Selatan Tapaktuan
DISHUTBUN 2003. Dinas Perkebunan dan Kehutanan, Pedoman pengamatan dan pengendalian hama pada tanaman pala.Dinas perkebunan dan pertanian Aceh Selatan Tapaktuan
DIRJEN Perkebunan, 1996 . Direktorat  jendral perkebunan, Pedoman Penetapan Blok Penghasil Tinggi Pala. Direktorat Bina Pembenihan.III (2).Jakarta.24 hal.
Hadad, M.E.A dan M. Syakir, 1992. Pengadaan Bahan Tanaman Pala dalam Perkembangan Penelitian Tanaman dan Kayu Manis. (Sitepu, dkk, Penyunting). Balai Penelitian Rempah dan Obat. VIII (I) Bogor. Halalaman  66
Lubis, Much Yacub, 1992. Budidaya Tanaman pala. Dalam Perkembangan Penelitian Tanaman Pala dalam Perkembangan Penelitian Tanaman dan Kayu Manis. (Sitepu, dkk, Penyunting). Balai Penelitian Rempah dan Obat. VIII (I) Bogor. Halalaman  66.
Husaini , 1992. Budidaya Tanaman pala. Dalam Perkembangan Penelitian Tanaman Pala dalam Perkembangan Penelitian Tanaman dan Kayu Manis. (Sitepu, dkk, Penyunting). Balai Penelitian Rempah dan Obat. VIII (I) Bogor. Halalaman  64.
Mulyono, E. 1997. Permasalahan Penanganan dan Pengolahan Pala.Balai Peneletian Tanaman Rempah dan Obat. Bogor.
Rismunandar, 1987. Budidaya dan Tata Niaga Pala. Penebar Swadaya. Jakarta. Halaman 130.











\
































Luas Areal dan Produksi
Pala Perkebunan Rakyat Kab. Aceh Selatan Provinsi Aceh
Berdasarkan Pola Pengembangan Tahun 2009 (angka Sementara)
Pola pengembanga      : Swadaya Murni

No
kecamatan
Luas Areal (Ha)
Jumlah
Produksi
Rata-rata
Jumlah
Ket
TBM
TM
TR
(Ha)
(Ha)
Produktivitas (Ha)
1
Labuhan Haji Barat
494
231
55
784
180
779
738

2
Labuhan Haji
605
360
152
1.117
282
783
1.293

3
Labuhan Haji Timur
665
532
190
1.387
425
799
1.654

4
Meukek
1.506
1.512
351
3.369
1.35
893
3.342

5
Sawang
645
455
75
1.175
460
813
1.39

6
samadua
664
563
65
1.292
470
817
1.675

7
Tapaktuan
1.201
562
97
1.86
240
836
1.771

8
Pasie Raja
374
270
78
722
240
889
1.292

9
Kluet Utara
24
52
22
98
48
923
345

10
KLuet TengaH
12
9
10
31
7
778
87

11
Kluet Selatan
9
8
7
24
6
750
74

12
kluet Timur
27
31
18
76
24
774
204

13
Bakongan
18
7
9
34
5
714
35

14
bakongan Timur
43
38
14
95
28
737
177

15
Trumon
49
16
11
76
11
688
163

16
Trumon Timur
11
5
5
21
3
600
54

Aceh Selatan
6.351
4.651
1.159
12.161
3.909
1.2573 
14.294









































Dokumentasi Kegiatan



Komentar